Desa Sumbergede sudah seperti neraka. Terlalu panas untuk ukuran musim kemarau. Terik yang begitu membakar kulit, menyisakan sengatan yang teramat sakit. Belum lagi, kami harus rela berbaris untuk menunggu giliran menimba air di satu-satunya sumur yang masih keluar air.
Kemarau panjang ini memang cobaan buat kami, warga yang hanya bisa mengharapkan air dari langit. Desa miskin sungai, sebutan lain dari desaku. Nama desa yang juga sebuah doa dari para leluhur, sumber gede, sumber air yang besar, seperti tak ada pengaruh apa-apa. Nyatanya tiap musim ekstrim seperti ini, tak ada lagi panen, semua lahan kerontang terbakar habis oleh panas yang merong-rong hingga lapisan tanah terdalam. Gagal panen akan melemparkan warga Sumbergede ke kasta terndah. Tak ada panen berarti tak ada makan, pun tak ada uang. Kami juga harus bersiap lapar di batas musim ini. Padahal, sudah lama sekali paceklik seperti ini tak datang. Entah, apakah karena saat ini usiaku tepat 17 tahun, sehingga Tuhan memberikan cobaan ini?
Bukan bercanda, ini benar. Berumur tujuh belas tahun perempuan desa Sumbergede di musim paceklik seperti ini adalah kesialan. Meskipun, bagi warga ini justru sebaliknya sebuah anugerah. Tetap saja, aku tak sudi ikhlas dijadikan tumbal. Tepatnya, bukan tumbal, tapi semacam syarat untuk ritual mengundang hujan. Meskipun mereka mengagung-agungkan namaku sebagai pahlawan kampung. Rasanya tak setimpal. Aku malah merasa sebenarnya hanyalah korban. Ah, tapi aku terlalu lemah, tak sanggup membela diriku sendiri. Parahnya lagi, orang tua kandungku pun begitu khusyuk mengikuti ritual bodoh ini.
”Emak dan Bapakmu iki bangga, Nduk, anak gadis emak terpilih dadi pahlawan desa.”
###
Prosesi pengiringanku ke seluruh penjuru desa sebagai syarat memanggil hujan telah usai. Dengan dandanan menor ala sinden, aku di bopong dengan kerenda dan diikuti oleh semua warga desa untuk berkeliling. Aku benar-benar mengutuk ritual minta hujan ini. Bukankah agama telah mengajarkan cara yang benar, dengan berdoa kepada sang Khalik dengan shalat? Bukan malah percaya dengan kata-kata Mbah Blendet itu.
"Ora opo-opo Nduk. Iki kan cuma syarat dari pawang to?" ucap Emak yang lebih terasa membujuk, sebelum pengiringanku berlangsung. Ya, Emak memang salah satu kubu pro Mbah Blendet, dari dulu.
Setelah diiring ke seluruh kampung, aku diturunkan dari keranda di depan rumah Mbah Blendet sang Pawang hujan desa. Gubuk reot kayu bambu dengan atap yang masih terbuat dari jerami ini terlihat sangat menyeramkan. Layaknya rumah-rumah dukun dengan seperangkat aksesorisnya, aura mistis berhasil membiusku seketika saat berhasil masuk di serambi rumah beralaskan tanah retak-retak.
"Ayo, suruh masuk! Tak resikkane jiwane! kata Mbah Blendet kepada salah satu warga. "Kalian kumpulah ke tanah lapang, enteni. Setelah ritual ini selesai, hujan akan membasuh Sumbergede sing kekeringan iki."
"Njih Mbah," serentak seluruh warga desa yang sudah putus asa menanti hujan tiba menjawab. Lalu mereka berbondong-bondong pergi. Meninggalkanku sendiri.
Pintu dari bambu apus yang telah kering tersusun tegak itu berbunyi ringkih saat tangan keriput dengan kesepuluh jarinya berakik menutup kembali. Kini, aku telah berada di rumah yang gelap dan pengap. Hanya lampu teplok yang sedikit memberikan cahaya remang-remang di rumah kecil minim perabot ini. Cuma ada kami berdua, mungkin beribu jin yang tak bisa kulihat juga berjubal di rumah angker ini.
Mbah Blendet mempersilakan aku untuk tidur di satu-satunya dipan yang usang dan berdebu. Di atasnya terpasang kain kelambu yang telah berlubang di ujung-ujungnya. Aku sedikit ragu, tapi pawang hujan yang telah bungkuk ini berhasil memaksaku dengan sorot matanya yang cuma tinggal satu.
Aku terlentang, memikirkan apa yang dulu dirasakan gadis-gadis lain sebelumku di rumah ini. Aku tak tahu ritual pembersihan itu apa. Hanya mengikuti semua ritualnya saja—meskipun dengan terpaksa, demi Emak dan Bapak. Pun, seluruh warga Sumbergede.
Ah....
Aku tersentak. Kaget. Tubuhku terbangun seketika saat jemari kasar Mbah Blenet menyentuh kulitku. Tentu saja, aku menggigil jijik, melihat tua bangka ini sudah telanjang di depan dipan. Tanpa sehelai kainpun. Lalu, tanpa malu dia mencoba menindih lagi pahaku. Aku menghindar cepat. Akibat gerakanku yang tak diprediksi, dia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjungkal di dipan.
Mbah Blendet bangkit penuh murka. Menyeringai, luber benci. Wajah rusaknya berhasil membuatku merinding.
“Wani-wanine kamu, Nduk! Ayo, buka bajumu sekarang! perintahnya dengan tangan yang ingin merengkuh kainku."
"Tidak Iblis!" kataku lantang.
"Perlawananmu iki sia-sia! Warga Desa ini terlalu goblok untuk percaya padamu, gadis tumbal! Mereka percaya kepadaku. Blendet sang pawang!!!”
Entah kenapa aku begitu sangat marah mendengar perkataan kakek-kakek di depanku. Ketakutan yang menjalar di tubuhku tadi, seketika lenyap dan menguap tak bersisa. Imanku membaja, mendengus berahi lelaki uzur ini. Aku merasa keputusanku benar, selalu menolak ritual ini. Ya, aku belum mau terlempar ke dalam dosa syirik yang dengan apik telah dirancang iblis berwujud manusia peyot ini.
"Aku tak takut! Aku punya Tuhan yang akan memberiku hujan! Bukan kamu!!"
“Mintalah sekarang kepada Tuhanmu itu! Coba, tunjukkan padaku!" katanya penuh ejekan.
Hatiku terasa terbakar, kesombongan manusia ini membuatku kalap. Dalam hati aku berdoa dengan penuh harap, memohon dengan segala kerendahan hatiku sebagai mahluk yang tak punya kuasa apa-apa terhadap semua takdir-Nya. Aku terus berdoa dalam hati, minta hujan hari ini.
"Mana? Mana? Mana hujannya?”
Aku kembali memohon dengan semua kepasrahan diri. Meminta dengan seindah-indahnya harap dan setulusnya permintaan.
Alhamdulillah, usahaku berbuah. Halilintar menyambar dengan gagah. Langit yang cerah mendadak pekat dirajut mendung rapat.
"Lihat! Hari ini akan hujan! Kau terlalu sombong, Mbah!" balasku ketus kini penuh senyum kemenangan.
Tak kusangka tawa Mbah Blendet malah terdengar keras. Wajah seramnya itu kini penuh hinaan, berucap lantang. "Kamu itu bodoh! Ya, bodoh. Semua gadis yang pernah disini semua bodoh!" tawanya kembali menggema. Kemudian dia mendekatiku. "Aku juga percaya pada Tuhanmu itu kok! Dan percaya hari ini juga akan turun hujan! Tapi, sayangnya warga kampung ini yakin kalau hujan itu dariku, bukan dari doa-doa kalian gadis tolol!”
Aku mematung, mencerna perkataan iblis bertopeng manusia ini. Ya Allah, pantas saja, ritual ini terus berjalan sampai sekarang. Ternyata doa gadis-gadis yang terdzalimi lah yang membuka langit untuk menurunkan hujan, air mata merekalah yang membuat tanah desa ini basah dengan rahmat Tuhan.
"Akan kuhentikan doaku segera?!"
“Tunggu... Tunggu. Yakin? Nak, kamu sanggup silakan. Sak iki aku takon, apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan mereka yang kini sedang berbahagia karena mendung sudah terlihat? Apa kamu iyo kuat, melihat hujan membasahi tanah panas desamu ini, tak jadi? Kau berdoa buruk, sama saja menodai kebehagiaan mereka," ancam iblis ini benar-benar membuatku bimbang.
Ya, mana mungkin aku menarik kembali permohonanku kepada Tuhan? Mana mungkin aku merusak kebahagiaan warga sekarang?
"Kalau gitu, akan kudoakan kau mati sekarang juga, Mbah!"
"Tolol, umur manusia sudah ditulis dari sebelum lahir. Apa bisa diminta lewat doa?" jawab Mbah Blendet semakin merendahkan.
Ya Allah... tolong hamba-Mu ini...
Doaku menyerah dan hanya bisa menangis perih, kala terdengar teriakan seluruh warga menyambut tetesan air hujan sambil meneriakkan nama Mbah Blendet.
END
Selasa, 20 Oktober 2015
Jumat, 09 Oktober 2015
DINDING BERDARAH
Aku masih dalam suasana
duka. Dimas—orang yang kucintai tragis hilang nyawa dalam kecelakaan motor dua
hari lalu. Padahal, hari pernikahan kami akan segera ditentukan. Ah, kenapa
takdir begitu kejam, mengambilnya setelah beribu panah jarak kami lewati dengan
sabar.
“Kenapa kau tak begitu antusias Dim? Kau dua kali lipat pendiemnya tau. Karena planning nikah ini? Padahal di medsos, kamu tetap saja selalu jadi perayu ulung...” Kata-kataku terakhir saat menemuinya di Bandung kembali menyesakkan dada.
Ada sesal saat aku melontarkan kecurigaan kepadanya. Bukankah, wajar ia menjadi pendiam? Karena bagi calon imam dan pemimpin rumah tangga, menikah bukanlah hal yang sepele? Ah, harusnya waktu itu aku mengerti posisimu, Dim.
“Kenapa kau tak begitu antusias Dim? Kau dua kali lipat pendiemnya tau. Karena planning nikah ini? Padahal di medsos, kamu tetap saja selalu jadi perayu ulung...” Kata-kataku terakhir saat menemuinya di Bandung kembali menyesakkan dada.
Ada sesal saat aku melontarkan kecurigaan kepadanya. Bukankah, wajar ia menjadi pendiam? Karena bagi calon imam dan pemimpin rumah tangga, menikah bukanlah hal yang sepele? Ah, harusnya waktu itu aku mengerti posisimu, Dim.
Kami berdua adalah pasangan
LDR. Cinta kami tidak menganggap jarak sebagai rintangan. Meskipun ia berada di
Bandung dan aku di Surabaya, namun kami selalu sanggup menunggu hari
perjumpaan. Rasa saling percayalah yang selalu terikat rapi dalam hati, hingga
kami dapat bertahan dengan hubungan ini.
Tapi sepertinya, semua
terasa sia-sia. Pengorbananku, pengorbananya, bendungan rindu dan semua yang
harus kami perjuangkan dulu, seakan menguap saat kabar kematian Dimas menghunus
dada. Sekarang semua seakan
terlambat bukan? Hanya mengais kenangan bersamanyalah yang sekarang bisa kulakukan.
Dengan
mata basah, kucoba mengarungi kembali kisah kami dalam akun sosoal media.
Sepertinya dulu, kami tak pernah luput untuk ‘pamer’ ke dunia tentang hubungan
mesra kami. Tentu, agar semua orang tahu, meski kami tak berada dalam satu
kota, namun kami adalah pasangan yang saling terikat janji. Pun, agar orang
yang ingin mendekati salah satu dari kami sadar, jika kami tak lagi sendiri.
Akhirnya, goresan
kata-kata cintanya di dinding facebook
kubaca lagi. Entah berapa kali kubuka tulisan-tulisannya ini? Ah, aku sendiri lupa untuk mengingatnya. Rindu. Ya,
rasa rindu yang terus menghunjam ini yang membutakanku.
Raya, kau tak akan pernah sendiri. Aku akan selalu menemanimu. Ya, sayang. Jangan pernah kesepian. Karena aku sangat tahu bagaimana sakitnya kesepian...
Dadaku nyeri. Sangat
nyeri, membaca dinding Fb-ku. Mata tak sanggup menolak untuk kembali basah, mengenang semua memori yang terpatri dan tak
akan pernah bisa pergi. Membaca satu demi satu tulisan dinding facebook, aku menangis, sakit, rindu, juga pilu. Hatiku terasa penuh. Entah, kenapa kata-katanya selalu sanggup membuatku merasa tak pernah sendiri. Di dinding ini aku kembali dapat merasa bersamanya. Mengulang cerita yang sama, di tanggal dan purnama yang telah tertera.
“Seperti inikah rasanya
kehilangan?!!”
Ya Tuhan, andai saja
aku tahu akan seperti ini, aku takkan memintanya pulang hari itu. Aku juga akan
meredam rasa rinduku barang sehari atau dua hari saja, agar kecelakaan itu tak
akan pernah terjadi dan merenggut nyawanya.
“Maafkan aku, Mas...”
###
Lamunanku bernostalgia
dengan kenangan Dimas buyar saat notifikasi dari fb-ku menyembul angka. Dengan
enggan, kubuka notifikasi itu. “Tidak mungkin!” kagetku saat akun Dimas muncul
di urutan pertama notifikasi. Jelas, aku tercekat. Jantungku berdetak tak
beraturan. Mention darinya mengisi dindingku. Aku tak percaya. Ini pasti pembajakan. Ia sudah meninggal!
Dimas @raya aku merindukanmu!
Entah siapa pelaku
pembajakan akun Dimas, aku harus buat perhitungan! Dengan cepat jariku lalu
memencet keyboard mengisi kolom komentar.
Kamu siapa?
Cepat, jawaban dari pembajak itu muncul. Dimas aku kekasihmu! @raya
Keringat dingin pun membanjiri keningku. Aku masih tidak percaya, malah ketakutan. Apakah mungkin
semua ini darinya? Kenapa aku jadi berpikir seperti orang gila. Mana mungkin?
Oke, aku curiga ia
benar-benar Dimas bukan tanpa alasan. Kabar meninggal Dimas memang kutahu dari
adiknya yang aku sendiri belum kenal. Selama menjalin hubungan, Dimas bukan
orang yang terbuka. Ia juga tak pernah mengenalkanku dengan keluarganya. Apalagi
datang ke rumahnya? Pernah sekali, dan itu terlihat sepi. Aku juga tak
dikenalkan oleh orang tuanya.
Lalu, hal mengganjal
lain tentang penguburan. Bahkan saat datang ke rumahnya sesuai alamat yang ia
beri dulu, aku pun tak menemukan prosesi pemakaman. Malah, penghuni lain yang
aku temukan. Bukan keluarga Dimas dan tak tahu siapa itu Dimas?
Apa jangan-jangan ini
salah satu permainanya untuk melamarku? Membiarkan aku khawatir dan nyaris gila
seperti ini?
“Jika ini benar. Sungguh
kejam kau Dim!”
Status demi status masih
meluber mengisi penuh dinding fb-ku. Aku begitu penasaran dengan semua tulisan
yang menyerbu salah satu akun sosialku itu. Kata-katanya penuh rayuan. Persis
seperti yang dilakukan Dimas. Aku mencoba membiarkannya. Tapi, dindingku
semakin sesak parah oleh kata-kata indahnya.
“Ini tak bisa
dibiarkan. Aku harus hentikan permainanmu, Dim! Ya, Segera.”
###
Akhirnya, kami sepakat
akan bertemu malam ini di gedung sekolah SD-kami dulu saat di Surabaya.
Aku datang sendiri.
Dengan hanya membawa hp dan dompet, kubulatkan tekat untuk menemui Dimas.
Sekolah sangat sepi. Seperti SD biasanya. Mana mungkin malam-malam ada kegiatan
seperti sekolah SMA yang banyak acara di malam hari. Ditambah, Surabaya habis diguyur
hujan sore tadi. Jadi semakin senyap saja
aura tempat ini.
Aku memasuki pintu kecil
sekolah yang terbuka dan tak pernah terkunci. Kami para alumni tahu, jika
gerbang kecil itu memang digunakan Pak Bon untuk keluar-masuk sekolah. Biar
praktis nggak bongkar tarik dorong gerbang, katanya saat dulu aku tanya. Dan
sampai sekarang pun, pintu rahasia itu tetap tak terkunci.
“Pak Bon tidak pernah
berubah. Ah, sayang sepertinya ia sudah tidur,” akuku sedikit menyesalkan lampu
rumah di pojok gedung sekolah yang sudah dimatikan.
Aku lantas menyusuri
lorong antar kelas. Menunggu sosok yang mengisi dinding Fb-ku akhir-akhir ini.
Jika memang ia Dimas, aku akan sangat senang dan bahagia. Karena itu adalah
harapku.
Aku akan buat perhitungan dengan kejutanmu ini Dim!
Belum selesai aku
melamunkannya, suara berat seorang laki-laki di depan mengagetkanku.
“Kau menepati janjimu,
sayang!”
Aku tak begitu jelas
melihat wajahnya. Gelap. Dan jarak kami lumayan jauh.
“Suaranya begitu mirip Dimas,” kata batinku.
Angin berembus membawa
suasana basah sisa hujan tadi. Dinginnya berhasil menembus tulangku. Sepi dan
senyap. Hanya suara jangkrik yang terdengar sangat riuh. Bulu romaku berdiri,
menahan ketakutan yang lamat-lamat mengisi hati.
“Dimas?” tanyaku siaga.
“Kau Dimas?” kali ini, aku ulangi bertanya dengan kata yang tergetar. Tak bisa
kupungkiri lagi, ketakutan telah menjalar diseluruh tubuhku. Tubuhku bergidik
sendiri penuh ngeri.
“Iya, sayang...” balasnya
dengan tenang.
Lalu, ia mendekat.
Langkah demi langkahnya seperti timer bom yang siap meledak. Jika ia benar Dimas,
ingin sekali aku memeluknya. Tapi, ada ragu. Ketakutan yang aku sendiri tak
tahu datang dari mana.
“Kesini sayang, peluk aku.
Aku sangat merindukanmu,” kata-katanya seolah mampu menghipnotisku.
Ya, telak. Aku tak
peduli lagi ia setan atau bukan. Aku tak mau tahu ia mayat atau manusia hidup. Sekali
lagi, aku tak peduli!! Buncahan rindu yang menggerakkan kakiku untuk melangkah.
Mendekatinya. Memeluknya. Dan melepaskan rasa yang tersisa.
Terima kasih Tuhan...
Tubuh kami bertautan
erat. Tapi—
Tapi, aku merasa
dingin. Bukan hangat yang selalu Dimas berikan di setiap pelukan. Ya, aku yakin
ini bukan ia. Ini bukan pelukan Dimas. Ini orang lain!
“Lepas! Kau bukan
Dimas!” teriakku tiba-tiba sambil memaksa melepaskan pelukannya. Sial,
teriakanku ini dibalas oleh tawa keras menyeramkan.
"Kembalikan Hp
Dimas!" teriakku lagi sambil mundur beberapa langkah. Mataku semakin
terbelalak saat melihat wajahnya. Ia
benar-benar Dimas. Apa mungkin ia punya saudara kembar? Dimas?! Kenapa kau berubah seperti ini?!
"HP? Ini
milikku!" katanya sambil mendekatiku. “Dimas telah mati! Tak perlu kau
mencarinya. Kini hanya ada aku dan kamu. Karena aku tak perlu lagi jiwa lemah
seperti DIMAS!”
Ia menyeringai
tersenyum penuh nafsu. Aku takut. Keringat membanjiri tubuh. Namun, kakiku
terasa kaku, lidahku kelu. Aku ingin berlari, tapi ketakutan mengikat erat pijakan
ini. Melihatku tak berdaya, ia semakin tertawa. Tertawa sangat keras layaknya
monster.
“Kau siapa sebenarnya?”
tanya itu yang sedikit membuat aku mengulur waktu. Setidaknya langkahnya
terhenti saat pertanyaanku menyerbu. Benar, ia berhenti dan tampak berpikir.
Matanya menjadi sayu.
Tapi, buru-buru
beringas menguasainya kembali.
“Aku SAMID. S-A-M-I-D! Dimas
Sudah mati. Tubuh ini sekarang sepenuhnya milikku. Dan kau—
“Kau juga. Kau juga
kini milikku. Ya, Kau!!! Hahahaha... Rumusnya adalah—
“Milik Dimas adalah
milikku!!! Hahaha...”
Tidak. Mana mungkin—
Sebelum pria sakit ini
menangkapku, aku mencoba berlari. Tanpa menengok lagi ke belakang. Ya, aku
berlari dan terus berlari. Sambil berteriak aku berlari menuju pintu rahasia
sekolah. Dengan keluar, saatu-satunya cara aku bebas.
Tapi, saat akan melangkah
ke pintu sempit itu, tiba-tiba kakiku menghantam sesuatu yang keras. Sial, aku terjatuh.
Ingin aku berdiri, tapi
terlambat! tangan lelaki itu sudah mengunci erat lenganku. Aku meronta. Tapi,
sia-sia. Ia menarikku dalam dekapannya. Sangat kasar. Aku melawan, mencoba
lepas, tapi semakin melawan ia semakin murka. Ia melemparkanku hingga kutersungkur.
Ia mendekat. Meninju perutku. Aku menjerit lirih, merasakan pukulan kerasnya
diperutku. Ia belum berhenti. Ia kini menjambak rambutku, menariknya hingga
beberapa rambutku tercabut dan berdarah. Wajahku sekarang yang ia incar. Dengan
genggaman tangannya yang kuat ia meretakkan rahangku. Aku tak berdaya. Hanya
sakit yang kurasakan. Darah menetes dari kulit kepala dan wajahku. Semua terasa
perih.
Ya Tuhan... Tolong aku...
Ia malah begitu puas
melihatku tak berdaya.
###
Aku terkapar di tanah lapang sekolah. Dari
kejauhan kudengar sirine mendekat. Lelaki itu terlihat ketakutan. Ia bingung.
Suara sirine rumah sakit itu seperti siksaan buatnya. Ia masih ketakutan.
Menengok ke kanan ke kiri untuk menghindari sumber suara. Kemudian, ia berlari
menjauh. Menghindari suara itu.
Aku masih tersungur di
tanah basah sekolah. Melihat air hujan menjadi merah oleh darahku sendiri. Aku
ingin berteriak minta tolong, dan berkata—
“Orang sakit itu masih
di sini...”
Namun tenaga untuk
menggetarkan pita suara ini terasa telah habis. Aku hanya mampu memandang dari
sini, sebuah mobil rumah sakit jiwa yang hanya lewat begitu saja...
Minggu, 27 September 2015
Cantik itu Sakit
"Finally, sampai juga. Eh, bener kan ini pukul enam pagi? Masih gelap dan sepi amat? Katanya bakal ada Jakarta Fashion Week? Apa jangan-jangan, aku salah lihat jam? Oh... tidak!"
Jianna kebingungan saat mall tempat digelarnya acara fashion tahunan itu masih terlihat senyap. Berusaha menyingkirkan resah, gadis SMA dengan dress putih berujung balon tanpa lengan itu mantap melangkah menuju eskalator mall ke lantai tiga.
Harusnya sih sudah ramai dari subuh tadi. Semoga saja aku nggak salah tempat atau jamku yang malah error.
Ketika kakinya berhasil tepat menapak di lantai tiga, Jianna seperti tersihir. Dari jauh ia penuh takjub menyaksikan stage berkarpet legam berbentuk T letter itu dikerumuni model-model jangkung yang sedang melakukan gladi bersih. Juga para panitia JFW yang semuanya terlihat super hibuk untuk mempersiapkan acara. Kontras sekali dengan suasana mall yang masih gelap dan belum siap untuk dibuka.
Jianna kebingungan saat mall tempat digelarnya acara fashion tahunan itu masih terlihat senyap. Berusaha menyingkirkan resah, gadis SMA dengan dress putih berujung balon tanpa lengan itu mantap melangkah menuju eskalator mall ke lantai tiga.
Harusnya sih sudah ramai dari subuh tadi. Semoga saja aku nggak salah tempat atau jamku yang malah error.
Ketika kakinya berhasil tepat menapak di lantai tiga, Jianna seperti tersihir. Dari jauh ia penuh takjub menyaksikan stage berkarpet legam berbentuk T letter itu dikerumuni model-model jangkung yang sedang melakukan gladi bersih. Juga para panitia JFW yang semuanya terlihat super hibuk untuk mempersiapkan acara. Kontras sekali dengan suasana mall yang masih gelap dan belum siap untuk dibuka.
“Jianna?” sapa salah satu panitia mendekatinya tiba-tiba.
Sepertinya ia teman Maminya, karena langsung tahu namanya.
“Iya, Mbak. Saya Jianna,” jawabnya sambil
memamerkan senyum bidadari andalan—yang kata teman-teman sekolahnya, “Senyum
Mariana Renata saja lewat!”
“Oke, good,
kamu sudah datang tepat waktu. Ayo langsung ke tempatmu sekarang. Ikuti aku,
dan akan banyak tugas buatmu di belakang. C’mon
Dahling,” ajak Mbak-mbak modis dengan rambut terkucir kuda dengan nama
Fahranie di kalung panitia.
Ya
Tuhan... Aku nggak sabar berjalan anggun di stage itu... Bisik hati Jianna terlalu exciting
saat merasakan bagian dari para model yang berpakaian alakadarnya itu.
Meski melihat dari jauh, aura anggun bisa terpancar dari bahasa tubuh mereka.
“Jianna! Ayo!” panggil Fahranie yang ternyata
sudah lebih dulu satu depa dengannya. Malu. Ya, kata itu yang membuat pipi
Jianna bersemburat merah. Bisa-bisanya ia melamun di hari sibuk semacam ini.
Tanpa banyak berkata lagi, Jianna pun langsung
mengikuti Fahranie. Ia menguntit di belakangnya sambil berdecak kagum melihat
para model, panggung, dan aura ruangan yang tampak megah dan mewah.
“Je. Tugas kamu di sini ya. Di backstage—
“Apa, Mbak? Backstage?!”
potong Jianna terkejut. Ia ingin apa yang barusan dikatakan Fahranie hanyalah
halusinasi, tapi—sialnya itu nyata.
“Iya, Je. Nanti Irma bakal memberikan semua
tugas yang harus kamu lakukan. Tetap semangat ya. Karena acaranya sampai tengah
malam. O ya, jika ada konsumsi panitia datang, jangan lupa nanti ambil saja.
Tenaga kamu perlu diisi, jadi usahakan sarapan. Oke, aku cus dulu ya Je,” terang sahabat Maminya itu panjang lebar. Sebelum
menghilang, perempuan ramah dan baik itu lalu menengok ke arah Irma, cewek
tambun bermuka biasa saja dan berpenampilan apa adanya itu sambil berkata,
“Titip Jianna ya Irma. Dia itu anak sahabat gue. Kalau ada apa-apa awas!”
“Siap bos,” jawab Irma seketika sambil
tangannya masih saja bekerja, memilah-milah gaun yang akan ditampilkan sesuai
desainer juga waktu penampilan untuk hari ini.
“Nggak
salah nih, aku ditempatin di backstage?!” protes
pilu hati Jianna akhirnya meronta. Ia baru sadar ternyata tempatnya bukan di
panggung megah tadi. Ada kecewa yang membungkus wajahnya saat ia mengamati
tempat kerjanya kini.
Apa menariknya coba? Dan apa yang bisa
dibanggakan dari kerjaan ngurusin backstage?
Toh, ia hanya bertugas di balik layar, menjadi panitia yang sibuk mempersiapkan
peralatan dan—ah, pasti melayani para model yang bakal banyak maunya.
Padahal kan, ia sudah dandan super cantik untuk bisa menyaingi para model yang
terlibat acara tahunan ini. Sepertinya mubazir.
"Kalau gini doang, ngapain aku bela-belain
nggak masuk sekolah?" rutuknya penuh sesal. Yang paling membuatnya kesal
saat ia berangkat sekolah besok, rencana pamer kepada Blorong Charlot—rival-nya di sekolah, kalau ia eksis di
JFW bakal gagal total. Nggak keren banget
pamer-pamer sebagai babu backstage kayak gini!
“Hari pertama ini, adalah acara pembukaan dan
penampilan karya fashion delapan
desainer dalam balutan tema Heritage.
Show pertama akan ada desainer baru
yang mengangkat masa purba Indonesia di zaman perunggu zaman sejarah. Ingat,
jangan sampai kamu lupa siapa saja desainer yang ikutan. Sudah tahu kan?” tanya
Irma tegas. Seperti polisi sedang melakukan investigasi tersangka.
Jianna hanya menggeleng pasrah. Ia sungguh buta
dengan kehidupan modelling yang
menurut siswi SMA seperti dirinya adalah dunia astral.
“Astaga! Si Bos pilih pekerja part time kok bego gini si,” ceplos Irma
sungguh tak enak Jianna dengar. “Ingat. Nanti bakal ada Deny Wirawan, Oscar
Lawalata, Chossy Latu, Sebastian Gunawan, Stefanus Hamy, Raden Sirait, Priyo,
Ghea Panggabean, dan Dasmond.”
“Oke. A-aku ingat kok, Mbak. Tenang saja,”
jawab Jianna sambil tersenyum paksa. Mana mungkin ia ingat begitu banyak nama
yang asing di telinga. Iya, kalau itu peajaran sekolahnya. Ini? menyita jatah memori
otaknya saja.
“Kamu bohong kan?” tebak Irma santai sambil
berlalu dari Jianna yang kini dengan pipi memerah karena malu.
“Sial, ternyata dikerjain aku,” omelnya pelan
kerena Irma penuh kepuasan saat menuduhnya bohong. Oke, Jianna ralat. Bukan
menuduh, tapi bicara fakta dan itu menyebalkan.
###
Di hari pertama, jangan ditanya bagaimana
sibuknya Jianna. Ia seperti budak yang wira-wiri
ke sana ke mari karena banyak perintah yang harus dilakukan. Mulai dari
mengurusi persiapan pembukaan, sampai ikut membantu mengangkat gong yang oh-so-big itu dengan lima orang panitia
lainnya. Gila! Ia harus berusaha meletakkannya susah payah di panggung runway hanya untuk dipakai sekali and just one minute?! Tidak hanya cukup
itu saja penderitaannya, Jianna juga masih kebagian tugas harus menelpon
berkali-kali Pak Ahok untuk memastikan kedatangannya sebagai pembuka dan
pemukul gong raksasa itu.
Ia sih tahu persis kenapa sampai bekerja rodi
seperti itu. Ya, karena ia hanya pekerja part
time dan paling mungil yang punya muka disiksa-able.
Makanya dengan enteng panitia perlengkapan demen banget main perintah-perintah
saja. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau suara berat Irma sudah mulai
menyuruh-nyuruhnya, kecuali hanya bisa terpaksa tersenyum dan menjawab cepat
satu kata : Ya!
“Sekarang, pokoknya kamu harus layani para
model! Kalau mereka minta hansaplast, kasih dan pasangin. Minta kipas, walaupun
sudah ada AC, kasih. Atau minta dikipasin? Kipasin! Pokoknya para model yang
sedang make-up itu seperti ratu yang perlu dilayani. Paham, Je?” perintah Irma
kembali berdengung di telinga Jianna.
Tugasnya kali ini berada di ruang make up. Ia pun berjalan lesu, memasuki
ruangan yang tertutup dengan tulisan MAKE UP ROOM di depan pintunya.
Tuhan?!
Kapan siksaan ini akan berakhir??
Belum selesai ia menggerutu, salah satu wajah
yang sangat-sedang-tidak-ingin-dilihatnya,
seperti tiba-tiba ada di depan matanya. Ia yakin, pemilik tubuh jangkung itu
juga sama seperti dirinya. Kaget!
Mata tajamnya kini menatap Jianna seperti tidak
percaya. Wajahnya mencoba menyembunyikan keterkejutan, kalau korban bullyan-nya
di sekolah itu kini di depannya, di acara bergengsi para kaumnya.
“Dia tidak mungkin Jianna, bukan?! Mana bisa
dia ikut atau bahkan hanya sekadar mencium bau euforia acara untuk para model
ini?” bisik hati Charlot Devina masih tak percaya dengan apa yang sedang ia
lihat.
“Ngapain
lo di sini, gadis berkasta rendah, nggak pantes di sini!” maki Charlot dengan
ekspresi jijik. Seperti melihat mahluk
tak kasatmata, model remaja itu berujar tanpa melihat Jianna, teman satu
kelasnya.
Berdua dengan Charlot di ruang make-up, instruksi dari Irma tentang
tugasnya terngiang-ngiang lagi di benak Jianna. Mendadak tugasnya kini
terdengar 100 kali lebih mengerikan baginya. Bagaimana nggak horror, jika yang dilayaninya adalah
musuh bebuyutannya di sekolah, sang model antagonis Charlot Devina. Ah, dia
benar-benar malas jika si pembully itu membuat ulah lagi di sini dengannya.
Sudah cukup ia berperang di sekolah, masa di sini juga?
“Hei, aku di sini panitia, dan kamu di sini
model kan? Jelas, jalur kita berbeda, dan silakan duduk, karena waktu runway segera dimulai, dan kamu belum touch up sama sekali,” perintah ketus
Jianna yang langsung berhasil membuat Charlot ingat akan profesionalitas.
Jianna benar, show akan segera
dimulai, sedang dirinya belum prepare
sama sekali. Dengan sikap tak acuh,
model pendatang baru itu pergi mencari tempat duduk di ruang yang—sumpah! Bagi
Jianna lebih berisik dari pasar!
Jianna terus mengamati Charlot yang sepertinya
berjalan dengan tidak normal. Langkahnya somplak dan ada gurat menahan sakit
dikernyitan dahinya. Rasa penasaran sekaligus kasihan membludak di hati Jianna.
Oke, itu sama sekali tidak manusiawi mungkin, karena mengasihi orang yang
menyiksa dirinya sendiri. Tetapi kini Jianna benar-benar sedang bersimpati
dengan musuhnya. Semacam salut dengan perjuangan Charl. Miris saja, meskipun
berjalan dengan sempoyongan gitu, ia tetap paksakan untuk menggunakan high heels yang sepertinya terlalu kecil
untuk ukuran kakinya.
Kenapa
dia mau dan tidak bisa menolak rancangan desainer itu sih?
“Apa daya seorang model, Je? Semua baju, sepatu,
aksesoris, seberat beton atau besi pun akan tetap dia pakai kalau memang itu
desain dari desainer yang mempekerjakannya,” ucapan Maminya terdengar kembali,
seperti menjawab pertanyaan hati Jianna barusan.
“Jianaa!!!” teriak suara Charlot keras membuyarkan
lamunannya. Buru-buru ia mendekati Charlot.
Charlot sudah duduk di sofa rias, dengan make up artis yang sudah mulai merombak
wajahnya. Tapi dari balik cermin besar di depannya, Jianna bisa melihat mata
Charlot melotot ke arahnya yang baru datang dan mematung di belakang kursi rias.
Sambil tetap menatap Jianna dari cermin, telunjuk Charlot diarahkannya ke kaki
yang berdarah dan lecet akibat sepatu yang ukurannya tidak pas di runway sesi sebelumnya.
“Malah bengong! Sakit nih! Cepet kasih
antiseptik dan hansaplast! Bisa kerja nggak sih?” maki Charlot yang terlihat
meringis, menahan perih kakinya. Namun, ia sepertinya tidak bisa berbuat
apa-apa atu sekedar mengeluh, karena show
must goon, dan ia harus diam nurut jika tidak mau hasil make up di wajahnya itu tidak sempurna.
“Tu-tunggu. Aku akan lekas balik.”
Jianna pun langsung melangkah gesit di pojok
ruangan rias dan baju. Ia menapaki lorong yang kanan kirinya sudah tergantung
baju yang akan dipakai untuk show session ini. Rancangan karya desainer
baru Dasmond, yang menitikberatkan pada bahan logam dan benda-benda di zaman
perunggu itu membuat Jianna geleng-geleng kepala.
“Busyet!”
Jianna tidak habis pikir, jika para model harus
mau menggunakan desain yang mengerikan yang telah tertata rapi dan siap dipakai
itu.
“Jiannaaaa!!!”
Teriakan cempreng khas Blorong Charlot sudah
menggema lagi. Disusul teriakan-teriakan model lain yang semua hampir mirip.
Benar-benar sudah kayak pasar. Untung kotak obat lumayan besar itu sudah di
depan mata Jianna. Tinggal mengambil hansaplast yang sudah disediakan
berkotak-kotak banyaknya—karena mungkin kejadian lecet atau berdarah akibat
sepatu memang sudah biasa, Rivanol, juga kapas. Setelah komplit, segera ia menemui
Si Blorong di kursi riasnya kembali.
“Kelamaan!”
Belum sampai di depan Charlot, Jianna sudah
mendapatkan semprotan dari pembully yang walau sakit masih saja tetap galak dan
menyeramkan.
Tanpa menunggu disemprot lagi, Jianna pun
jongkok dan mulai membersihkan luka di kaki Charlot yang darahnya sudah mulai
mengering. Jianna melakukannya sangat pelan dan hati-hati. Telinganya sudah
cukup panas, jika masih harus mendengar bentakan Charlot lagi. Saat cairan
rivanol menyentuh luka Charlot, iaa melihat wajah Charlot yang menahan sakit.
Ya, teman satu sekolahnya itu terlihat tersiksa, karena tidak mungkin bergerak-gerak
saat mukanya mulai dihias dengan dandanan ala mahluk zaman purba itu. Hanya
napasnya yang mendesah dalam dan panjang.
Setelah luka Charlot terlihat bersih, Jianna
tutup luka di kaki bagian belakangnya dengan plester yang sudah diambil. Kini, ia
menatap iba ke arah pembully yang ternyata juga tidak mudah perjuangannya untuk
menjadi model profesiaonal.
Sadar, akan tatapan Jianna, Charlot langsung
mendelik marah. Ia mengangkat ke lima jarinya kepada sang pembuat gambar
akar-akar pohon dan ranting daun di pipi mulusnya itu sebagai kode, “Tolong
berhenti sebentar”.
“Ngapain
lo masih di depan gue! Pergi sana, muak gue lihat wajah lo,” bentak Charlot dan
langsung memberi kode kepada penggambar mukanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa pikir lama lagi, Jianna pun menyingkir
dari Charlot. Ia lalu melayani model lain yang melambaikan tangan ke arahnya
karena belum bisa berteriak menyebu namanya. Mungkin model ini lebih
membutuhkannya daripada si Charlot Devina!
###
Show akhirnya segera dimulai. Semua
baju rancangan Dasmond yang sangat berat pun telah dipakai oleh semua model.
Jianna ikut membantu memasangkan karya seni bernilai tinggi itu ke tubuh para
model yang seperti tulang berbungkus kulit. Ia sangat hati-hati. Takut melukai
mahluk sempurna bernama model di depannya. Saat ia membantu memasangkan kalung
logam perunggu, tiba-tiba ia dikejutkan suara keras dari sebelahnya. Suara tubuh
ambruk yang diikuti gemercik lonceng logam di baju yang dipakainya itu saling
berhantaman dengan lantai ruang make-up.
“Astaga Charlot?! Kamu nggak apa-apa,” jerit
Jianna melihat tubuh Charlot yang sudah dalam posisi duduk di lantai. Dengan
susah payah ia menahan bobot tubuh Charlot yang naik drastis karena baju yang
dipakainya. Jianna dan panitia lain mencoba membantu Charlot untuk berdiri.
Sebenarnya Jianna sudah siap dengan dampratan
Charlot saat mencoba membantunya berdiri, tetapi kali ini gadis cantik itu
hanya diam. Memilih menahan sakit dan berat di tubuhnya daripada energinya
digunakan untuk mendamprat Jianna. Baju desainer Dasmond itu memang terlalu
banyak logam, hingga tubuh Charlot terasa tidak kuat menahan beban baju yang
dikenakan pada show kali ini.
“Nggak bisa minta izin dulu—
“Bego lo ya!?” potong Charlot sambil tertatih
dan tetap berdiri dengan menyemplangkan tangannya ke pundak Jianna. Ia butuh
sandaran untuk berdiri karena ketika akan naik ke panggung, ia tidak boleh
duduk dan harus sudah siap berbaris sesuai gilirannya tampil dan memamerkan
kelihaian catwalk dan busana Dasmond.
“Terus? Kaki kamu kan masih sakit, apa lagi
baju ini yang so—
“Jangan pernah berkomentar fashion jika tidak mengerti apa-apa tentang fashion! Lo harusnya tahu. Ini mimpi gue! Mimpi nyokap gue! Dan gue
nggak boleh lemah atau kalah hanya dengan luka lecet, atau perut yang kelaparan
karena nggak sempet makan. Gue akan lakukan apa saja untuk MIMPI gue ini!
Termasuk nendang lo dari sini, jika itu perlu!” kata Charlot dengan tatapan
tajam ke arah Jianna.
Ya, Jianna tentu saja tahu jika belum ada sedikit
pun nasi yang melewati kerongkongan Charlot. Seperti yang dilihatnya tadi,
beberapa model termasuk Charlot hanya makan
secuil ayamnya saja dari nasi box yang disediakan panitia. Itu pun sedikit.
“Diet ketat,” kata salah satu model yang Jianna
tanya ketika mereka terlihat tidak menyentuh hidangan dari panitia.
“Apa
semenyakitkan ini, untuk menjadi cantik?” tanya
batin Jianna ketika mengingat semua kebiasaan para mahluk sempurna bernama
model ini.
“Mang
masih berapa lama sih? Lo kan panitia?” bentak Charlot judes kepada Jianna yang
masih membantunya berdiri.
“Dua puluh menit lagi untuk putaran pertama,
dan itu masih—
“Stop!
Diam dan lo jangan pernah bergerak. Terus kayak gini. Satu menit saja sudah
seperti neraka!” potong Charlot cepat, ia malas mendengarkan penjelasan Jianna yang
akan membuatnya tahu jika ia masih harus tersiksa lebih lama lagi. Tak ada
kompromi bagi Charlot, mau tak mau ia harus bisa menahannya, demi mimpinya.
Jianna memandang model di sampingnya dengan
iba. Ia kini tahu, betapa berat pengorbanan dan perjuangan Charlot untuk meraih
mimpinya. Ia merasa kerdil, belum berani berbuat apa-apa untuk meraih mimpinya.
Jika, andai ia bisa bertukar posisi dengan Charlot, ia tak akan yakin bisa
menghadapinya.
Ya,Tuhan.
Aku belum kuat hidup sesakit ini..
“Buang muka menyedihkan dari wajah lo sekarang
JIANNA! Atau lo mau gue bully di sini juga, ha? Dasar siswa berkasta rendah! Menyedihkan
lo!”
###
#MenulisBarengAlumni
Tema : Sakit
#MenulisBarengAlumni
Tema : Sakit
Senin, 21 September 2015
Penjilat
Aku sebut diriku dengan
penjilat. Meski bukan benar-benar dengan memainkan lidah dan menjulurkannnya ke
sasaran yang kujilat. Tapi, cuma sebuah istilah, yang artinya menurutku tidak
jauh-jauh beda dengan efeknya. Sama-sama membuat nyaman dan ketagihan. Sampai,
korban atau sasaran yang kujilat akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan
kenikmatan itu.
“Kau itu menjijikkan,
opurtunis!”
Kata kasar Serilda,
partner sesama penulis yang mungkin lidahnya ditumbuhi silet dan dilengkapi
dengan air ludah penajam otomatis. See?
Tiap ia membuka mulut, hunjaman nyeri hati sudah pasti akan menimpa lawan
bicaranya. Untung aku tak termasuk dalam golongan manusia peka semacam itu. Ya, karena kami sama-sama berlidah silet.
“Kau itu bego ya?! Ini
namanya simbiosis. Mana ada aku memanfaatkan orang tanpa dia juga dapat enaknya?”
Balasku santai, di kursi
kayu depan ruang pengajaran kampus tempat biasa Serilda menghabiskan berjam-jam
dini harinya untuk berimajinasi lewat tulisan. Aku berujar tanpa
menatapnya. Fokus dengan layar laptopku yang terasa lebih menarik. Meskipun, aku
harus rela pindah dari Semarang ke Pekalongan hanya untuk berduet bareng dengan
novelis best seller ini.
“Dasar Penjilat!”
Oke, sudah dua pisau yang
ia semburkan dari ucapannya. Tentu saja aku tak mau kalah di posisi 2-1. Rasanya tak
mungkin aku tetap diam dan hanya menatap draft novelku ini.
“Hei, penulis. Kau itu
bukan Tuhan! Kau bahkan tak tahu apa yang hatimu itu inginkan? Sok ngerti isi
hati orang lain! Sungguh, lucu!”
Kini posisi kami draw 2-2. Perempuan berpostur gembul dengan
rambut acak-acakan dan rokok yang selalu dikempit di bibir hitamnya itu sudah
sok paham diriku luar dalam. Kenal saja baru-baru saja. Kalau saja tidak ada
pelatihan menulis di Jogja, tentu aku tak akan pernah mau mengenalnya. Buat apa?
Orang-orang yang tak memberikan keuntungan kepadaku akan kubuang. Kueliminasi
tanpa pikir panjang.
“Lantas, kenapa kau
seolah mengikutiku? Kita juga masih selalu bertemu? Kenapa kita tetap sok
bersimbiosis seperti teori abal-abalmu ini? Apa arti aku buatmu? Hanya
cemoohan? Hanya agar kau bisa menjadwal makanku, tidurku, melarang rokok, alkohol?! SHIT!!!”
Aneh. Perempuan ini
kini mengoceh penuh emosi. Sebagai mahluk hawa, perasaannya ternyata masih
hidup juga. Lepas dari fisiknya sebagai pemikat lelaki yang sudah menurut
mataku ini ‘mati’.
Aku tak menjawab. Aku
tak tertarik untuk menang. Biarlah skor
3-2 atau 10-2 aku tak peduli. Naskahku ini lebih perlu perhatian ekstra
daripada racauan perempuan sinting yang anehnya selalu berhasil membuatku
nyaman. Ya, nyaman untuk berkata kasar kepadanya tanpa takut ia sakit hati.
Tapi, malam ini, sepertinya aku gagal.
“Diam saja kan kau?! Cukup.
Aku mau pulang.”
Dia melangkah gegas
dari kursi untuk siaga pergi. Ya, begitu saja. Ah, mana bisa aku biarkan situasi
ini. Aku harus menaikkan skor tinggi tanpa harus berucap kasar.
Dengan sigap, kutarik
kuat-kuat lenganya, kupagut bibir hitamnya. Tanpa ragu. Tanpa takut. Kurasakan
napasnya hangat membelai tiap syaraf. Jantungnya pun terdengar riuh. Kulitnya
menegang, aliran darahnya terasa dipacu. Ya, aku dapat rasakan semua dari
pembuluh darah bawah kulitnya. Tangan dinginnya yang kugenggam kini mulai melunglai.
Kami tetap terpaut. Perlahan, kuraih puntung rokok dari
jarinya dan kubuang jauh. Tentu saja, dengan tetap mencumbuinya.
Kau
itu bodoh! Aku tak begitu lihai mengungkapkan cinta. Kau harusnya juga jangan
sok tahu isi hatiku. Dasar perempuan gendut bodoh! Aku hanya butuh kau ada di
sisiku. Ya, itu saja.
“Kau bukan sedang
memanfaatkanku kan? Apa artinya ini semua?”
“Jangan menganggap ini
terlalu tinggi. Kau yang bilang aku ini penjilat, bukan?! Sudah lupa? Dasar
bodoh!”
Untuk diikutkan
tantangan KF tema “tinggi”
###
Langganan:
Postingan (Atom)